Dari beberapa kota berstatus kota Wali di Jawa, Kota Cirebon mempunyai ciri khas tersendiri. Di Cirebon ini memiliki adat istiadat, tutur bahasa dan warisan kebudayaan yang agak berbeda, seperti tari-tarian, atau corak kain batik dibandingkan dengan masyarakat Pasundan di Jawa Barat umumnya, walaupun Cirebon terletak di Provinsi Jawa Barat.
Selain itu dapat pula dijumpai gaya arsitektur bangunan yang memiliki ciri yang khas, unik dan berbeda. Hal ini terlihat pada bangunan keraton yang memiliki desain sangat menawan. Keraton berarti tempat duduk bersama, rumah, teristimewa rumah para leluluhur, tempat keluarga besar bertemu, dan melaksanakan ritual-ritual adat. Dibalik bentuknya yang unik, Keraton menyimpan sejarah perjalanan panjang.
SEKILAS SEJARAH CIREBON
Menurut Purwaka Caruban Nagari, pada abad XIV di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Padjadjaran). Dan di pelabuhan ini juga terlihat aktivitas masyarakat Islam semakin berkembang. Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.
Selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi. Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti kepada Raja Galuh. Oleh Raja Galuh dijawab dengan mengirimkan bala tentara ke Cirebon untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang. Lalu berdirilah kerajaan baru di Cirebon dengan Raja bergelar Cakrabuana. Berdirinya kerajaan ini menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai dikenal di kawasan Asia Tenggara.
Pada tahun 1479 Cirebon berkembang pesat menjadi pusat penyebaran dan Kerajaan Islam, terutama di wilayah Jawa Barat. Pada tanggal 7 Januari 1681 Cirebon secara politik dan ekonomi berada dalam pengawasan pihak VOC, setelah penguasa Cirebon waktu itu menanda tangani perjanjian dengan VOC. Di masa kolonial Hindia Belanda, tahun 1906 Cirebon disahkan menjadi Gemeente Cheribon Setelah berstatus Gemeente Cirebon pada tahun 1906, kota ini baru dipimpin oleh seorang Burgermeester (wali kota) pada tahun 1920 dengan wali kota pertamanya adalah J.H. Johan. Kemudian oleh R.A. Scotman pada tahun 1925. Pada tahun 1926 Gemeente Cirebon ditingkatkan statusnya oleh pemerintah Hindia-Belanda menjadi stadgemeente, dengan otonomi yang lebih luas untuk mengatur pengembangan kotanya. Selanjutnya pada 1928 dipilih J.M. van Oostrom Soede sebagai wali kota berikutnya. Sedangkan pada masa pendudukan Jepang ditunjuk Asikin Nataatmaja sebagai Shitjo (wali kota) yang memerintah antara tahun 1942-1943. Kemudian dilanjutkan oleh Muhiran Suria sampai tahun 1949, sebelum digantikan oleh Prinata Kusuma.
Wilayah Kotamadya Cirebon Sebelah Utara dibatasi Sungai Kedung Pane, Sebelah Barat dibatasi Sungai Banjir Kanal, Kabupaten Cirebon, Sebelah Selatan dibatasi Sungai Kalijaga, Sebelah Timur dibatasi Laut Jawa. Kota ini dilalui oleh beberapa sungai di antaranya Sungai Kedung Pane, Sungai Sukalila, Sungai Kesunean, dan Sungai Kalijaga.
Cirebon dikenal dengan nama Kota Udang dan Kota Wali. Selain itu disebut juga sebagai Caruban Nagari (penanda gunung Ceremai) dan Grage (Negeri Gede dalam bahasa jawa cirebon berarti kerajaan yang luas). Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam, masyarakat Cirebon biasa menggunakan dua bahasa, bahasa Sunda dan Jawa dengan dialek khas Cirebon berasal dari kata Caruban dalam Bahasa Sunda yang berarti campuran (karena budaya Cirebon merupakan campuran dari budaya Sunda, Jawa, Tionghoa, dan unsur-unsur budaya Arab) atau bisa juga berasal dari kata Ci yang artinya air atau sungai dan Rebon yang artinya udang dalam Bahasa Sunda. Di kota ini masih terdapat Becak khas Cirebon sebagai sarana transportasi rakyat sekaligus sarana untuk wisata keliling kota.
SENI CIREBONAN
Kebudayaan yang melekat pada masyarakat Cirebon merupakan perpaduan berbagai budaya yang datang dan membentuk ciri khas tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pertunjukan khas masyarakat Cirebon antara lain Tarling, Tari Topeng Cirebon, Sintren, Kesenian Gembyung dan Sandiwara Cirebonan.
Kota ini juga memiliki beberapa kerajinan tangan di antaranya Topeng Cirebon, Lukisan Kaca, Bunga Rotan dan Batik dengan Motif Mega Mendung Salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama.
Motif Mega Mendung adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana (1452-1479), yang hingga kini masih kerap digunakan. Motif tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon. Karena pada awalnya, seni batik Cirebon hanya dikenal di kalangan keraton. Sekarang di Cirebon, batik motif mega mendung telah banyak digunakan berbagai kalangan. Selain itu terdapat juga motif-motif batik yang disesuaikan dengan ciri khas penduduk pesisir.
PARIWISATA RELIGI
Sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Barat, Kota Cirebon menawarkan banyak pesona mulai dari wisata sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam, kisah para wali, Komplek Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung sekitar 15 km ke arah barat pusat kota, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid At Taqwa, kelenteng kuno, dan bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda. Kota ini juga menyediakan bermacam kuliner khas Cirebon, dan terdapat sentra kerajinan rotan serta batik yang bermotif khas.
Cirebon mempunyai 4 keraton sekaligus di dalam kota, yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Ciri khas bangunan keraton selalu menghadap ke utara dan ada sebuah masjid didekatnya. Setiap keraton mempunyai alun-alun sebagai tempat berkumpul, pasar dan patung macan di taman atau halaman depan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya kerajaan Cirebon. Ciri lain adalah piring porselen asli Tiongkok yang jadi penghias dinding. Beberapa piring konon diperoleh dari Eropa saat Cirebon jadi pelabuhan pusat perdagangan Pulau Jawa.
Kota Cirebon memiliki beberapa kawasan taman di antaranya Taman Air Sunyaragi dan Taman Ade Irma Suryani, tempat para putri raja bersolek, halaman rumput hijau tempat para ksatria berlatih, ditambah menara dan kamar istimewa yang pintunya terbuat dari tirai air. Beberapa masakan khas kota ini sebagai bagian dari wisata kuliner antara lain: Sega Jamblang, Sega lengko, Empal gentong, Docang, Tahu gejrot, Kerupuk Melarat, Mendoan, Sate beber, Mi koclok, Empal asem, Nasi goreng Cirebon, Ketoprak Cirebon, Bubur ayam Cirebon, Kerupuk Udang Keripik yang terbuat dari tepung tapioka dan digoreng dengan pasir panas (bukan minyak). Emping berukuran besar (kerupuk dari melinjo), Tjampolay minuman legendaris asal Cirebon, Pertama kali dibuat oleh Tan Tjek Tjiu pada 11 Juli 1936 dan sebagainya.
Jelasnya tempat-tempat yang layak dikunjungi untuk wisata religi antara lain, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, Keraton Keprabon, Taman Air Sunyaragi Mesjid Agung Sang Cipta Rasa, Mesjid Panjunan .
Adanya upacara Ritual di Keraton Kasepuhan Cirebon, berupa “Siraman panjang jimat,” yang merupakan rangkaian kegiatan tahunan sebelum “mauludan”, yakni mencuci barang-barang pusaka, berupa piring, guci dan botol yang berumur ratusan tahun, menambah keunikan Cirebon sebagai tempat wisata religi.***
Translate to Your Language :)
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
27 Jan 2013
27 Des 2012
Seuntai Penggalan Harapan untuk Curup Town
C…u…r…u…p = curup
Siapa yang tidak
pernah mendengar nama kota ini ? dan siapa yang mengetahui nama kota ini ?
Kota yang termasuk dalam Provinsi Bengkulu ini berada di daerah
lekukan jajaran pegunungan Bukit Barisan yang terkenal keindahannya, juga memiliki
banyak air terjun alami, yang sangat berpotensi menjadi suatu tempat wisata
alam yang indah, dengan pemandangan Bukit Kaba dan Bukit Daun di sekelilingnya ,
kian bertambah eloknya. Tapi sayangnya hanya segelintir orang di luar warga
setempat yang mengenalnya.
Daerah yang berbukit-bukit sebenarnya suatu karakter bentangan alam, yang melambangkan kesuburan tanahnya. Dengan masa penghujan yang panjang semakin mendukung kota Curup, menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Rejang Lebong yang sangat dikenal sebagai pemasok bahan makanan utama dari daerah Bengkulu ; beras, sayur, buah-buahan. Membuat kota ini dipenuhi oleh hamparan persawahan dan perkebunan yang indah dan berseri.
Daerah yang berbukit-bukit sebenarnya suatu karakter bentangan alam, yang melambangkan kesuburan tanahnya. Dengan masa penghujan yang panjang semakin mendukung kota Curup, menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Rejang Lebong yang sangat dikenal sebagai pemasok bahan makanan utama dari daerah Bengkulu ; beras, sayur, buah-buahan. Membuat kota ini dipenuhi oleh hamparan persawahan dan perkebunan yang indah dan berseri.
Curup yang sekarang bukan Curup yang
dulu
Kini, dengan luas 1.109 km, kota Curup telah
> memoles
diri lebih baik dari sebelumnya. Tetapi ada
beberapa objek wisata yang mungkin sebagian orang di nusantara ini, tidak terpikirkan dengan kata ‘Curup’ , yang dikenal
hanyalah ‘Bengkulu’. Mengapa kota Curup tidak dikenal? Berbagai
kemungkinan pasti ada, salah satunya mungkin kurangnya promosi di media massa maupun media
cetak, atau ada sesuatu yang masih
merupakan factor x ? yang belum tergali, sehingga perlu kita gali dan memberi pemecahan masalah bersama. Memang
bisa dikatakan semuanya belum tergali
secara tuntas. Ini membutuhkan semangat, energy pemikiran, waktu, dan biaya yang
tinggi dan luar biasa banyaknya. Dan hal
ini tentunya bukan hanya tugas dari Pemda setempat saja, untuk mengembangkan
Kota Curup, tetapi tugas kita semua yag
peduli.
Setelah kita mengetahui masalahnya,mulai sekarang seharusnya
kita lakukan adalah, bersiap membenahi kota ‘Air Terjun’ ini, dan mulai bangun
dari tidur berkepanjangan, buat Curup kita tercinta menjadi suatu tempat dari
yang “biasa” menjadi “luar biasa”. Cari dan temukan icon untuk Kota Curup, yang
dapat mewakili identitas dan kekhasan kota.
Potensi Karakter Bentangan Alam Curup
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah potensi karakter dari
kota Curup sendiri.
Kita ketahui, kota Curup adalah sebuah kawasan yang memilikikarakter keindahan tersendiri. Tapi, apakah kita sadar akan hal itu?
kita dapat memanfaatkan semua tempat di sudut kota Curup. Mengangkat semua aspek keindahan di Kota Curup agar menjadi “Kota wisata”.
hal ini bisa dimulai dari memanafaatkan karakter bentang alam, yang dimulai dari memanfaatkan Sungai Musi yang numpang mengalir di Kota Curup, Cagar alam yang terletak di Kota Curup (cagar alam Cawang dan cagar alam Despatah), pegunungan & perbukitan, kawasan berendam air panas, beragam air terjun, persawahan & perkebunan, sampai kepada kerajinan tradisional di Kota Curup.
Kita juga seharusnya dapat mengatur Danau Mas menjadi suatu danau indah yang sedemikian rupa, agar keindahan yang terpancar dari Danau Mas ini dapat menjadi sebuah magnet bagi para wisatawan, dan dapat juga menentramkan hati para penduduk sekitar, ketika melihat Danau Mas ini. Dan juga pengembangan secara lebih dan lebih lagi terhadap objek wisata alam Diobagite, yang perlu perencanaan lansekap yang lebih terarah dan berkonsep dengan benar.
Kita ketahui, kota Curup adalah sebuah kawasan yang memilikikarakter keindahan tersendiri. Tapi, apakah kita sadar akan hal itu?
kita dapat memanfaatkan semua tempat di sudut kota Curup. Mengangkat semua aspek keindahan di Kota Curup agar menjadi “Kota wisata”.
hal ini bisa dimulai dari memanafaatkan karakter bentang alam, yang dimulai dari memanfaatkan Sungai Musi yang numpang mengalir di Kota Curup, Cagar alam yang terletak di Kota Curup (cagar alam Cawang dan cagar alam Despatah), pegunungan & perbukitan, kawasan berendam air panas, beragam air terjun, persawahan & perkebunan, sampai kepada kerajinan tradisional di Kota Curup.
Kita juga seharusnya dapat mengatur Danau Mas menjadi suatu danau indah yang sedemikian rupa, agar keindahan yang terpancar dari Danau Mas ini dapat menjadi sebuah magnet bagi para wisatawan, dan dapat juga menentramkan hati para penduduk sekitar, ketika melihat Danau Mas ini. Dan juga pengembangan secara lebih dan lebih lagi terhadap objek wisata alam Diobagite, yang perlu perencanaan lansekap yang lebih terarah dan berkonsep dengan benar.
Saran Pengembangan Wisata
Kota Curup boleh berkembang semakin ke arah vertical, dengan
dibangunnya gedung-gedung, perkantoran
yang kiranya di satu sisi dapat mengurangi keasriannya, tapi kita harapkan di
satu sisi lainnya dapat menambah fasilita, sarana dan infrastruktur kota.
Selain itu kita harus mengerti akan apa yang diinginkan para
wisatawan, baik dari nusantara maupun
dari mancanegara. Serta memahami
jenis-jenis wisata apa saja yang berpotensi dari Kota Curup, sehingga kita
dapat mulai mengkotak-kotakkan jenis wisata yang mungkin akan di minati oleh
para wisatawan, dan sudah ada di Kota Curup sendiri, seperti :
- wisata alam, merupakan wisata untuk liburan menghilangkan
kepenatan dimana para wisatawan hanya “duduk” santai , menikmati daerah
konservasi, dan menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh Kota Curup.
- wisata
berpetualang, dengan menyusuri hutan ataupun mendaki gunung. Disini,
maksud penulis adalah mulai ‘mempercantik’ tampilan gunung ataupun bukit yang
terletak di kota Curup, agar pesona dan keindahan alamnya semakin terpancar secara maksimal, tentunya dengan
catatan tanpa merubah keasliannya,
dengan kata lain dari sudah cantik menjadi lebih cantik dipolesnya.
- wisata untuk keluarga, dimana para pendatang/wisatawan
datang untuk “merasakan dan meresapi” bagaimana objek wisata di Curup yang
dapat mempersatukan dan membuat keakraban mereka semakin bertambah.
- wisata budaya, dengan berbaur bersama kebudayaan setempat.
Seperti kita ketahui, Kota Curup ini mempunyai penduduk asli, yaitu Suku Rejang
dan Suku Lembak, ini merupakan potensi yang luar biasa, bisa sebagai daya tarik
tersendiri bagi para pecinta budaya. Kita dapat memanfaatkan Rumah Adat Rejang
Lebong secara lebih maksimal lagi, yang mungkin dengan cara mengadakan
bazaar-bazaar yang berlokasi di dalam rumah Adat Rejang Lebong, dan masyarakat
Suku Rejang sendirilah sebagai penjualnya. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan
potensi wisata belanja di Kota Curup, sehingga perlu disediakan wadah atau
pinjaman bagi masyarakat yang akan berkecimpung, di dalam bidang pengadaan
souvenir ciri khas Kota Curup.
Harapan-Harapan
Harapan warga Curup untuk Kota Curup di tahun 2013, dengan
dikembangkan serta dioptimalkan kawasan-kawasan yang kiranya berpotensi sebagai
karakter wisata Kota Curup, maka warga Curup akan tentram hatinya, kenapa ? karena
ada harapan dan ajakan partisipasi untuk
memperbaiki taraf hidup mereka. Seperti pepatah mengatakan, sebaiknya Warga
Curup haruslah diberi pancingan, bukan ikan.
Dan harapan penulis pada tahun 2013 mendatang adalah agar Curup Town menjadi better than before, dan mulai memperbaiki serta mempercantik sarana, pra-sarana Kota Curup ini.
Caranya yang pertama adalah bercermin dan mempelajari dari kota-kota yang telah sukses, mengembangkan potensi-potensi
kawasan, yang kedua mengundang para ahli
lansekap, ahli antropologi dan ahli perkotaan.
Tujuan utama adalah agar
masyarakat mengenal lebih dekat Curup Town , yang sebenarnya tidak kalah
menariknya dengan objek wisata ditempat lain di belahan bumi nusantara ini. Semoga
Kota Curup dapat berevolusi menjadi kota yang asri nan indah.***
26 Des 2012
Be Witness of Unique and Exotic 'Toraja'
Datang, Lihat, Nikmati, dan Jadilah saksi serta sebarluaskan Citra keunikan eksotisnya Tana Toraja ke Nusantara dan Mancanegara :D
Awalnya saya mengira Tana Toraja itu biasa saja tempatnya, hanyalah salah satu tempat yang tidak wajib dikunjungi, atau istilahnya bagi orang yang ingin berwisata tetapi tidak tahu ingin kemana, yah iseng-iseng sajalah ke sana, seperti saya ini.
Setelah keluar dari Bandara Sultan Hassanuddin, dengan menumpang pete-pete (semacam angkutan kota yang ada), saya menuju Kota Makassar, kemudian dilanjutkan ke Kota Makale selama kurang lebih 7 jam lewat darat, dan sampailah ke penginapan. Dalam perjalanan, saya disuguhi panorama yang alami. disambut jalanan yang membelah bukit berkelok,diselingi Rumah Adat Tongkonan yang berdiri megah di kanan-kiri jalan.
Udara Kota Makale dipagi hari sangat sejuk, awalnya saya tidak dapat melihat apapun karena kabut yang tebal menyelimuti bagian kota. Semakin matahari naik, kabut semakin hilang kelebatannya, dan mulai menampakkan nuansa Toraja yang sangat indah. Nampak adanya tongkonan (rumah adat Toraja yang ujung atapnya menghadap ke atas), sawah beserta tedong-nya (kerbau) semua bersatu berlomba-lomba merajutkan warna keindahannya di mata saya. Ternyata setelah menginjakkan kaki di bumi Celebes, Tana Toraja dugaan saya salah besar. Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan suasana lingkungan yang demikian alami, asri, dan kental budayanya.
Mengenal lebih dekat budaya yang beraura budaya mistik, yaitu Upacara Adat Rambu Solo, upacara ini bertujuan menghormati, menghantarkan arwah orang yang telah meninggal dunia menuju alam roh. Upacara ini sangat unik dan tidak ada duanya di dunia. Orang yang meninggal akan dianggap meninggal, apabila upacara ini telah selesai. Bila upacara belum selesai maka orang yang telah meninggal dianggap tidur atau sakit, dan uniknya “setiap orang yang telah meninggal” tetap diberi makan serta diajak bicara oleh sanak keluarganya . Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian. Dalam konteks ini, Upacara Adat Rambu Solo menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua mereka yang meninggal dunia. Akhirnya saya sekali lagi kembali terpesona dengan keindahan Toraja. Harus diakui sepertinya saya belum pernah menemukan tempat wisata budaya yang menawarkan sejuta keunikan budaya mistik seperti di Tana Toraja ini.
Matahari di barat mulai meredup, angkutan pete-pete yang beroperasi menjadi berkurang. Sedangkan rasa penasaran dan keingintahuan saya semakin memuncak Saya masih ingin lihat dan menyaksikan keunikan rangkaian ritual lainya yang tidak ada di tempat lain, dan mutlak harus didatangi. Tetapi jangan kawatir mengenai angkutan di Tana Toraja ini, banyak tempat yang menyediakan sewa mobil jeep maupun ojek motor.
Saya juga menyempatkan diri berkunjung ke makam yang berbentuk dinding batu. Apalagi kalau bukan Lemo ? Ada sekitar 70-an lubang yang isinya adalah mayat dan tau-tau (Bahasa Toraja yang berarti patung-patung dari orang yang telah meninggal dan dimakamkan disana.), di sekelilingnya terhampar sawah yang luas dan menghijau .Selain Lemo, saya pun berkunjung ke Lokomata, yang terdapat hamparan puluhan kubur batu disini ada yang besar dan ada juga yang kecil. Tempat lainnya adalah Londa, yang berupa goa alam, 30 menit dari kota Makale dengan menggunakan angkutan umum. Saya sarankan, ketika anda datang ke goa ini agar membawa alat penerangan, agar bisa melihat lebih jelas. Goa ini memeiliki kedalaman 1000 meter. Didalam goa suasananya gelap, di sebagian tempat, goa hanya memiliki ketinggian satu meter sehingga orang yang lewat harus sedikit membungkuk untuk melewatinya. Di dalam goa ada ratusan banyak sekali tulang belulang yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun. Banyak juga peti mati yang masih baru. Udara di dalam goa terasa sejuk, tidak pengap ataupun berbau meskipun di dalam goa saya bersama banyak mayat dan tulang belulang.
**Gabriella Mistissy
25 Des 2012
Mak Yong
Apresiasi terhadap teater rakyat Mak Yong
Mak Yong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai drama tari dalam forum internasional. Di zaman dulu, pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi.
Drama tari mak yong dipertunjukkan di negara bagian Terengganu, Pattani, Kelantan, dan Kedah. Selain itu, mak yong juga dipentaskan di Kepulauan Riau Indonesia. Di kepulauan Riau, mak yong dibawakan penari yang memakai topeng, berbeda dengan di Malaysia yang tanpa topeng
18 Nov 2012
Sendangsono, Lourdesnya Indonesia??
Kalau berbicara tentang Gua Maria, siapa sih orang yang tak tahu Gua Maria Sendangsono??
yang gatau cupu ahh, hhehehe *bercanda ya ^^
Gua Maria Sendangsono ini letaknya ada di Yogyakarta. Alamat lengkap dari Sendangsono ini adalah di kawasan Gunung Menoreh yang memiliki alamat di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon progo, Propinsi DIY.
Sendangsono ini terletak didaerah perbatasan antara Yogyakarta dengan Jawa Tengah. Dari Yogyakarta ke arah barat daya kira-kira 25 km dan kira-kira 30 km dari kota Magelang dan 15 km dari selatan Muntilan.
Kata Sendangsono itu artinya apa sich?
yang gatau cupu ahh, hhehehe *bercanda ya ^^
Gua Maria Sendangsono ini letaknya ada di Yogyakarta. Alamat lengkap dari Sendangsono ini adalah di kawasan Gunung Menoreh yang memiliki alamat di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon progo, Propinsi DIY.
Sendangsono ini terletak didaerah perbatasan antara Yogyakarta dengan Jawa Tengah. Dari Yogyakarta ke arah barat daya kira-kira 25 km dan kira-kira 30 km dari kota Magelang dan 15 km dari selatan Muntilan.
Kata Sendangsono itu artinya apa sich?
17 Nov 2012
Prosesi 12 tahunan Kwan Im Hud Chow ke-14
halo halo semua.
sebenarnya saya sudah mau mempublikasikan entri ini sejak lama.
tapi karena ada banyaaaaakkk sekali halangan, jadi sampai2 saya belum juga mempublikasikan entri yang satu ini. karena kemarin setelah acara yang digelar pada hari Sabtu, 06 Oktober 2012 saya mengikuti UTS dan tidak diperkenankan oleh ibu saya untuk meyentuh laptop. *huhuuu :(
kelihatannya sudah basi sich, sudah sebulan berlalu. Tapi berani coba2 nge-close window blog saya ini, awas aja loe *hihiihi galak amat ya ><
oke daripada kita kebanyakkan basa basi, nanti malah nutup windownya beneran lagi, hmm yasudah mari kita mulai dari first picture.
sebenarnya saya sudah mau mempublikasikan entri ini sejak lama.
tapi karena ada banyaaaaakkk sekali halangan, jadi sampai2 saya belum juga mempublikasikan entri yang satu ini. karena kemarin setelah acara yang digelar pada hari Sabtu, 06 Oktober 2012 saya mengikuti UTS dan tidak diperkenankan oleh ibu saya untuk meyentuh laptop. *huhuuu :(
kelihatannya sudah basi sich, sudah sebulan berlalu. Tapi berani coba2 nge-close window blog saya ini, awas aja loe *hihiihi galak amat ya ><
oke daripada kita kebanyakkan basa basi, nanti malah nutup windownya beneran lagi, hmm yasudah mari kita mulai dari first picture.
your visiter number
Labels
a mythical
(4)
Cerita Kehidupan
(10)
Culture
(6)
Laporan Praktikum
(6)
My Adventures
(13)
My Feelings
(5)
Resensi
(6)
Sad Story
(1)
Science
(8)
thriller
(4)
Tugas
(1)